Senin, 19 Februari 2018

FEBRUARI DAN PACAR ORANG


Bagi jiwa-jiwa yang sudah terbiasa terluka
menyembuhkan cidera bukanlah hal tersulitnya
namun harus membuka hati kembali
merintis siklus yg sama kembali
memperkenalkan diri lagi
dan beradaptasi lagi

itulah hal tersulitnya
melelahkan dan membosankan sekali.

iya itu yg aku rasa kan tatkala harus berpisah dengan orang yg pernah ku ajak kondangan bareng, namun gagal bikin undangan bareng.
butuh waktu tidak sebentar untuk melupakanya, hingga aku menyerah untuk mencapai titik berat tersebut, karna itu sangat mustahil bagi manusia mana pun, untuk melupakan kenangan indah itu tidak mudah.
dan realistis saja akhirnya yang bisa  lakukan hanya lah tidak memikirkanya.

waktu membawa ku berpetualang ke beberapa hati yg niat nya ingin ku jadikan penggantinya, tapi fakta di lapangan tdak mudah seperti teori duduk sembari ngopi, yg sering ku dendangkan bersama teman-teman haha
mungkin yg membuat proses pencarian ini terasa sulit karena cermin sebagai alat rfeleksi sekaligus  intropeksi aku abaiakan.
kadang selera ku ketinggian dan bisa di bilang sedikit tidak wajar haha.
apalagi usia segini yg memang relasi semakin menyempit dan waktu luang jarang di temukan.

lalu aku mulai terbiasa sendiri, pencarian atas pasangan hanyalah sampingan di dalam kegiatan ku mencari uang.
memang di bandingkan waktu dulu, sekarang aku adalah orang yg lebih sibuk.
faktor usia menjadi pengaruh besar, apalagi peluang atas rejeki bisa di katakan sedang lumayan lancar.

hingga takdir membawaku kembali ke relasi lama, seorang kenalan yg pernah aku jadikan target sasaran, yg dulu tak sempat dekat, tiba - tiba hari itu entah bagaimana ceritanya saling berbalas pesan terbuat.

singkat cerita aku memantabkan rasa, dengan ingin kenal lebih jauh tentang dirinya.
sok perhatian dan beragam modus ku lakukan untuknya.
mulai dari gaya pedekate klise jaman dulu yg cupu, atau menggunakan gaya ku yg cenderung menyukai sastra dalam mengungkapkan rasa.

namun pada akhirnya suatu info ku temukan, bahwa ternyata dia tlah memiliki pacar.
sumpah aku sempat lemas dan ingin menyerah, tapi kalo aku mundur sebelum perang sama saja aku pecundang, atau lebih tepatnya sudah kepalang basah maka mandi sekalian.

lalu lahir lah sebuah pembelaan, yg sering di lakukan orang-orang khilaf untuk menutupi aibnya apa bila salah langkah : alah baru pacar, begitu menurutku waktu itu haha
maju terus saja, cari celah untuk masuk, tinggal lah sedikit lebih lama, dan apabila dia putus dengan pacarnya setidaknya aku tidak keduluan yg lain, apabila perjuanganku ini di anggap sayembara.

kami terus kontak, dan ku rasa saat itu bisa di kata kan cukup dekat, enggak tau kalo menurut dia
dan ku rasa ku tlah jatuh cinta, enggak peduli dia kepadaku gimana rasanya

yg ku kecewa dari kedekatan ini hanya lah jarak.
fyi : dia adalah seorang fighter yg tengah berkerja di kota bengawan

kadang aku rindu untuk bertemu, tapi sayang seringkali jarak dan waktu tak bisa di ajak kerja sama.
terhalang oleh jarak  membuat ruang gerak ku menjadi terbatas, sekedar untuk membangun relasi secara nyata dengan berbincang langsung itu tidak mudah.
karena pada dasarnya prinsipku yaitu hanya dengan action di dunia nyata maka chemistry denganya menjadi tercipta.
maka saat dia tengah pulang dengan sangat sigap segala rayuan ku coba kerahkan, untuk sesaat saja agar aku bisa bertatap denganya, dan benar saat bertemu aku semakin cinta haha






lambat laun di saat rasa ini tumbuh berkembang, suatu malam secara terang-terangan aku mengungkapkan rasa, bahwa kau tertarik kepadanya.
tentunya tanpa meminta nya untuk menjawab, aku hanya sekedar bilang.
entah kenapa waktu itu hal semacam itu ku lakukan.

dari sikap dan pernyataan yg sudah aku tunjukan, maka suatu status alami lahir di tengah hubungan ini, yaitu friendzone.
aku pernah bilang kepadanya, jika di hari depan dia tak berhasil ku dapatkan, maka dengan segala kedewasaan akan aku terima dengan lapang dada, dan tidak akan ada kecewa yg menimbulkan lara dan berefek permusuhan.

tapi dengan segala hormat aku tetap menghargai cowonya, aku tak pernah ada niat untuk merusak hubungan mereka, biar dia saja menjalaninya dengan senatural mungkin.
apabila dia dan cowo nya tak berjodoh kan berati Tuhan memberikan ku peluang haha

namun rasa itu tentang perasaan, tak bisa di bohongi, lambat laun aku makin sayang.
dan entah kenapa mulai ada rasa cemburu yg kian mengendap.
aku mulai gundah saat ia tak membalas pesan, aku bersedih ketika apa yg aku sampaikan di abaiakan.

padahal jika di runut dari awal, aku sama sekali tak berhak untuk mempunyai rasa itu.
tapi lagi-lagi bahwasanya cinta  mematikan nalar.
dalam perjalananya sengaja aku tahan cinta yg betepuk sebelah tangan, namanya juga perjuangan.

dan tanpa mengesampingkan segala kekurangan pada diri ku sendiri, akhirnya aku goyah, di suatu hari komitmen ku untuk tidak kecewa mulai tumpah.

ada suatu masa dimana kehidupan sosial ku sedang tidak baik-baik saja, dan di waktu yg sama aku juga harus terus memperjuangkan ego ku untuk mebangun fondas usaha mendapatkanya.
di waktu yg bersamaan otomatis akhirnya aku menjalankan dua peran, aku tetap mencoba mengaspresiasi yg ia lakukan, menjadi pendengar ada kendala apa dalam kehidupanya, dengan harapan semoga saja aku bisa berkontribusu membantu setiap masalah nya.

ternyata pekerjaan yg dobel itu tidak mudah di jalani, aku juga tengah di rundung masalah dalam tengah pekerjaan yg benar-benar lelah.
lalu aku berharap dia sedikit cemas dengan apa yg tengah aku rasakan, aku butuh support dari orang yg aku sayang, karna  sepertinya hanya itu yg bisa membangkitkan gairah positifku untuk melawan kerasnya kehidupan.

tapi apa daya, ia tak peka terhadap apa yg aku rasa, aku pancing lewat sosial media dia tetap diam saja, karena untuk bicara mengeluh langsung aku sadar akan posisi ku.
faktanya rasa yg ia punya tak sama dengan yg aku beri kan kepadanya, ia masa bodoh dengan yg aku alami, dia acuh terhadap masalah yg sedang aku hadapi.
benturan dua rasa rasa tersebut membuatku murka, aku kata kan semua keluh kesah ku kepada nya, akhirnya terbongkar bahwa pertahanan ku  sebenarnya sudah rapuh sejak dulu.

dan di waktu yg bersamaan, aku sadar bahwa apa yg aku katakan kepadanya adalah salah.
karna posisi aku dan dia berbeda, dan rasa ku kepadanya adalah tak sama.
aku menyesal tlah berbuat demikian, tapi di sisi lain kondisi ku yg tengah rapuh tak bisa menerima karena aku berprasangka bahwa aku di rendahkan.
mungkin sebenarnya tidak demikian, tapi saat itu kondisi ku tengah kacau.


sejak hari itu aku menjauh, mencoba bersikap sama seperti yg ia lakukan , yaitu biasa saja.
bukan berarti tak lagi sayang, hanya saja aku bermain aman untuk tidak terus terluka dalam keadaan yg tidak imbang.
di balik layar aku masih mengharapkanya, dari jauh doa ku masih tentang nama nya.
kadang saat melihat lini masa sosmed tentang dia, yg sepertinya tengah bersedih, aku ingin ada, bahkan aku ingin datang, tapi aku lebih memilih diam, untuk menjaga perasaan ku sendiri agar tak terluka, karena aku trauma merasa di abaikan.
...............





hingga tiba dimana hari aku dengar  bahwa dia akan pulang.
harap-harap cemas aku bersiap menyambutnya, karna aku merasa yakin dengan bertatap muka aku lebih di hargai, aku menyangka bisa menunjukan dominasi ku sebagai seoarang lelaki.

aku berandai-andai mengatur jadwal, membuat planing dadakan yg menurutku akan berhasil jika aku tawarkan.

senin malam saat sedang lembur berkerja, kabar darinya datang, bahwa ia tlah tiba.
aku bahagia sekaligus deg-deg kan, karena hanya 2 hari bisa dirumah, begitu katanya.
bagaimana tidak, posisi ku saat itu tengah ada deadline pekerjaan, yg apabila di selesaikan malam itu juga tak akan kelar, yg artinya kesempatanku untuk besok bisa menemuinya akan hilang.

alih alih mencari alasan untuk libur esok hari, malah sebelum mata terpejam aku mendapat info menyebalkan, bahwa pekerjaan ku yang begitu banyak harus secepatnya di selesai kan.
seakan mempertegas bahwa hari pertama dia di rumah adalah kesialan ku, karena tidak akan dapat menemuinya.
bagi nya mungkin tak apa, bukan soal dan biasa saja, tapi bagi ku yg tengah jatuh hati, ini adalah bencana !

pagi hari aku bahagia, mendapat kabar dari mu yg sepertinya begitu ceria tatkala berada di tanah kelahiran, tapi di sudut bumi lain aku tengah bersedih, karna hari itu denganmu aku tak bisa jumpa.
dan pada akhirnya dalam perjalanan berangkat kerja hanya gelisah yg menjadi teman.



dalam perjalanan imajinasiku ngelantur, nulis seakan akan kamu adalah milik ku haha




di tengah pekerjaan aku mencoba mencari kabar tentang apa yg dia lakukan, sama seperti biasanya dia mebalas datar.
ku coba menawarkan esoknya untuk jalan-jalan, namun dengan berbagai alasan di tolak secara halus dan rasional.

mungkin tempatnya kurang menarik dan beberapa faktor tidak mebuatnya tergiur untuk tertarik.
dalam perjalanan pulang  ku berfikir keras, bagaimana cara agar aku bisa bertemu denganya, membangun chemistry seperti tujuan awal ku, tak apa kau denganya, asal bisa jalan denganya sekali saja aku bisa sedikit bernafas lega, melepaskan keraguan bahwa apa yg selama ini ku lakukan tak sia-sia.

sudah aku niat kan tak lagi berharap lebih, sudah ku pelajari skema agar  konsisten tidak terbawa perasaan yg kurang jernih.

nyaris tengah malam aku sampai rumah, namun baru berapa opsi yg aku ajukan darinya belum ada kesepakatan.
bahkan sepertinya sudah di abaikan, karna aku melihat kolom chat nya masih online, namun pesan yg aku kirim tak kunjung berubah menjadi  centang dua biru hehe.

hingga pukul satu aku masih bingung, namun ada optimisme bahwa besoknya sebelum dia kembali berangkat ke kota tempat ia bekerja, aku yakin dia akan mengiyakan ajakan ku.

lalu ku kemas perlengkapan yg kiranya besok akan dibawa sebelum tidur, berdiri di depan cermin dan memutuskan si kumis tipis juga harus di cukur.

jam 5 pagi alarm yg sengaja ku setel lebih awal berbunyi.
setelah sholat dan berdoa agar keinginan ku di kabulkan, seperti biasa aku ngopi sembari menanti mentari, sekaligus menunggu kabar darimu untuk konfirmasi.
sebenarnya yg aku sendiri masih begitu ragu, atas apa yg aku yakini bahwa dia akan mau.

hingga pukul tujuh pesan ku belum di baca olehnya, mungkin masih tidur karena kemaren setelah melepas rindu dengan keluarganya ia kecapean, pikir ku hehe

dengan sedikit optmisme yg berlebihan tepat pukul delapan aku memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap, bodo amat tentang keputusan, yg penting usaha nya dulu, ujarku dalam hati dengan getir.

ibu yg tengah melihat aku mengepak beberapa barang pasti mengira aku akan berangkat bekerja, lantas ia menyiapkan sarapan.
aku tolak karena ada harapan jika dia bersedia jalan denganku, maka makan bersama mu pasti lebih spesial.
oh iya, hari itu aku ijin untuk libur, selain sudah tak lagi ada pekerjaan yg urgent, aku juga tak ingin jika tidak memberi tau akan berpergian, takutnya di tengah perjalanan di telpon untuk urusan pekerjaan.

pukul sembilan saat acara tv tengah menonton aku yg sedang memain kan pola layar gadget, datang lah pesan dari nya.
mengabarkan bahwa baru saja terbangun.
oke tak apa pikirku, toh hak dia juga mau bangun jam berapa pun.

pesan ku semalam akhirnya tenggelam oleh basa basi pagi.
akhirnya ku ajukan penawaran lagi, dan dia belum bisa memastikan karna masih ada beberapa urusan yg harus di selesaikan.

aku hanya tak ingin memaksa, maka aku sudahi proposal yg tidak resmi itu.
dia pergi meninggalkan ku yg tengah tersenyum sumringah kagum atas perilaku semesta yg semena-mena.

aku menunggunya merampungkan segala urusanya, dengan berharap setelah itu aku terlihat, nampak di matanya dan di lihat oleh hatinya.

satu jam kemudian ia tetap tanpa kabar, dan aku yg sudah mandi dan ganti baju akhirnya ketiduran.


dua jam setelahnya aku terbangun, melihat beberapa notif yg ternyata tak ada namanya.
aku baik-baik saja, karena sadar di pertengahan hari hanya sedikit waktunya dirumah  yg tersisa.

satu jam kemudian aku melihat bahwa pesan terakhirku telah bercentang dua biru, namun tanpa balsan yg membuat ku tersenyum  penuh haru.

pikir ku mungkin ia telah kembali berangkat, meninggalkan ku yg terpana terhadap kebodohan ku sendiri, bahwa kesalahan lama tlah aku ulangi.
kesimpulanya berharap lebih namun tak terlaksana hanya lahir sakit hati.

dia tidak bersalah, sama sekali tidak.
ini hanya tentang kekecewaan pada diri sendiri.
dari ambisi ku untuk memiliki atau berharap sesuatu  yg bukan hak ku.

lantas aku berfikir, kenapa lagi-lagi aku di abaikan?
aku mendapatkan jawaban seperti kejadian dulu, bahwasanya rasaku dan rasanya tidak sama.
aku hanya di anggap sebagai temanya, sedang aku malah sudah bercerita kepada ibuku bahwa aku tengah jatuh cinta
gila? IYA !

aku menghargai penolakanya yg mengabaikan ku, mungkin ia sedang menjaga martabatnya di hadapan pacarnya, kalo dia mau walau sekedar jalan mungkin dia berpikir akan menghianati pasanganya.


tak ada lagi luka yg berlebihan, hanya sedikt perih namun aku yakin akan lekas sembuh.
karna aku sadar bahwa selama ini dan semua ini adalah murni kesalahan ku.











HATI-HATI DI JALAN
BAIK BAIK DISITU
                


            wonosobo 28 februari 2018





















Rabu, 31 Januari 2018

Pendidikan itu tidak penting

Butuh sebuah clickbait untuk menggaet antusias netizen agar menjadi reader dari artikel ini, tak apalah kadang hidup memang perlu Gimmick hehehe


Ngapain sekolah tinggi-tinggi? palingan ngga ada yg ke pakai, di kehidupan nyata kita tidak akan menerapkan rumus-rumus fisika yg begitu ruwet, tak akan juga menggunakan teori-teori omong kosong dari beragam pelajaran di sekolah.
pelajaran-pelajaran tersebut hanya berguna untuk nilai semata, kepuasan angka dalam rapot yg begitu fana.
Apa bisa menjamin yg nilai matematika nya bagus bakalan berpenghasilan gede nanti nya? tidak kan?
pada pokok intinya ilmu matematika hanya bermanfaat saat ngitung duit, selebihnya hanya buang-buang waktu dalam mempelajari dari tiap bab nya, karna saat masuk dunia kerja yg notabenya banyak pekerjaan dan bahkan mayoritas pekerjaan tidak bersinggungan secara langsung dengan angka.

Saat beranjak dewasa saya semakin sadar bahwa dalam prakteknya ilmu yg kita dapat dr bangku sekolah sangat minim berfaedah secara langsung di dunia nyata atau Real world.
contoh sederhana saat naik sepeda motor, kecepatan dan reflek terhadap tikungan tanjakan dan turunan pada dasarnya sudah di miliki manusia pada instingnya, tak memerlukan rumus tekanan benda gerak dan mempertimbangkan kecepatan dan hal bertele-tele lainya .

dan masih banyak lagi kegiatan sehari-hari maupun pekerjaan yg mengabaikan teori omong kosong dalam pelajaran sekolah.

Wujud nyata yg keliatan dan di kejar dari pendidikan sebenarnya hanyalah ijazah, sebagai jembatan ke dunia kerja agar lebih mudah.
karena tanpa bisa di sangkal ijazah dan gelar memang sangat mendobrak seseorang untuk mendapat pekerjaan yg di inginkanya. walaupun tidak semua.

di Indonesia sendiri masih ada aspek lain yg perlu di perhatikan apabila ingin mendpatkan pekerjaan apalagi pada posisi yg strategis, orang dalam yg menggaet sanak familinya untuk mengikuti jejak saudaranya dengan cara curang alias tidak selektif, tanpa intregitas dan sangat tentu mengandung keraguan kualitas !
.

Namun kembali ke pembagian rejeki dari sang pencipta, apa iya yg tidak sekolah selalu kalah dalam hal gaji atau bayaran dengan mereka yg mengenyang pendidikan?
tidak juga, sudah banyak contoh sukses yg di lakukan oleh orang-orang non pelajar, bahkan merekea mempekerjakan orang-orang terpelajar?
mengapa bisa demikian?
tentu ada kerja keras yg berlipat ganda dr para pelaku sukses tersebut, karena untuk mengandalkan gelar mereka tak punya , lalu mereka mandiri  ber-wira swasta, dengan perjuangan yg tidak mudah dan di ridhoi oleh Tuhan di kancarkanlah urusanya dalam usaha yg ia kelola.

Lantas apa sia-sia perjuangan kita dalam belajar bertahun tahun di bangku sekolah? semua ilmu yg kita pelajari, tugas yg di kerjakan, ujian yg di perjuangkan dan biaya yg di pertaruhkan hanya untuk sesuatu yg tidak ada manfaatnya?


Jangan pesimistis, saya sebagai orang islam selalu percaya dan wajib yakin dengan sabda junjunganya, nabi pernah berkata  " menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim ".

Pendidikan, penting karena pada dasarnya kita sebagai manusia sudah dibekali instrumen untuk melakukan proses pembelajaran, yaitu otak 
dan pendidikan disini sangat luas cakupannya, tidak melulu harus dibangku sekolah atau kuliah, memang pada dasarnya jika seseorang menempuh pendidikan lebih tinggi, maka ia dianggap oleh masyarakat sebagai sosok terdidik, dan mendapatkan kedudukan serta kehormatan tersendiri di lingkungan sosialnya
namun yang membuat hal tersebut berbeda adalah bukan panjangnya gelar seseorang tsb melainkan pola pikirnya.
Kualitas individu terdidik tersebut diukur dari banyak barometer, akan sangat memuakkan kalo dijabarkan semua satu persatu dalam tulisan singkat ini, tapi seperti kata rasullullah saw, bahwa sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama inilah yang akan menjadi tolak ukur sempurna tentang kualitas manusia terdidik tsb, yang pada dasarnya adalah seberapa luas kebermanfaatan ilmu yang disebarkan atau dimanfaatkan umat dari individu tersebut, yang didasari dengan pengetahuan akan ke Tuhanan. 
Dengan begitu kebermanfaatannya akan menjadi lebih lengkap, bandingkan dg para koruptor yg berpendidikan tinggi tp ilmu keTuhanannya lemah, beriman tipis, gampang digoda dan terperdaya, kalau dia punya kepintaran, kepintaran itu tidak lain hanya untuk membodohi masyarakatnya.
Dan disini ilmu ke Tuhanan itu mutlak diperlukan oleh semua makhluk yang mengaku dirinya manusia, baik yg terdidik maupun yang belum. 
Asistem pendidikan kita bermasalah karena mereka mencetak generasi dengan birokrasi kaku dan bisa dikatakan tidak tepat sasaran, bayangkan kalau tolak ukur kepandaian hanya dari mapel matematika atau sains, betapa bodohnya anak dengan kemampuan seni yang unggul jika hanya diukur dengan nilai kumulatif yg dominan  berasal dari mapel eksak, sains atau bahkan bahasa tanpa mengikut sertakan kemampuan seni nya.
seperti monyet yang dilatih untuk terbang atau gajah untuk memanjat.
jadi, pendidikan itu penting, tapi ngga melulu dr bangku formal, akan lebih baik jika pendidikan itu dimulai dr pengetahuan tentang ke Tuhanan agar nantinya seseorang dapat membatasi dirinya dari hal yang dilarang Tuhannya.
Dan generasi perempuan sholikhah ada dibalik maju dan berkembangnya generasi selanjutnya, al ummu madrasatul al uula, ibu adalah madrasah pertama anak anaknya, dan kesuksesan terbesar seseorang adalah jika apa yang dilakukannya bisa membuat orang lain meniru apa yang ia perbuat, bisa kemaksiatan bisa kebaikan, karena prinsip pendidikan adalah untuk menjadikan manusia sesuai dengan apa yang didisainkan Tuhan untuknya
.
Sekali lagi dan perlu di garis bawahi bahwasanya tujuan dari pendidikan tak melulu soal uang.
jika sekolah hanya untuk duit, cari kerja saja dari sejak masih bocah ingusan,jangan pernah sekolah.

Bukan tentang pelajaranya apa yg akan ke pake apa enggak, namun koneksi dan relasi, cara berpikir, wawasan dll, yg akan di gunakan di hari depan, dan semua itu di dapat di bangku sekolah.

yang nggak bisa sekolah tinggi jangan berkecil hati, di luar pendidikan formal masih banyak yg bisa di pelajari, tentang interaksi dengan banyak orang juga merupakan ilmu yg di dapat secara tidak langsung, dari obrolan-obrolan, pengalaman hidup semua itu juga ilmu.
banyak baca buku  dan hal-hal bermanfaat di smartphone, di mulai dari apa yg di sukai lalu merembet  ke hal-hal yg semestinya perlu di ketahui, perbanyak menonton acara berkualitas, comedy cerdas, film dengan pesan moral dan ilmu pengetahuan, lakukan berulang, dan secara tidak sadar perjalanan hidup ini adalah sebuah pembelajaran.


dan yg masih bersikeras mengatakan pendidikan itu tidak penting lantas kenapa orang tua berkerja keras untuk menyekolahkan anaknya, dan jika suatu hari nanti kamu punya anak dan menganggap pendidikan itu tidak penting akan kah seseorang yg kolot tersebut akan bersikeras beranggapan bahwa pendidikan itu tidak penting dan tak akan memasukan anaknya ke dunia pendidikan? 

tulisan kali ini sedikit melenceng dari deskripsi blogg, yg awalnya tak pernah ada manfaatnya dan kebanyakan malah curcol, maka untuk kali ini besar harapan akan membakar api semangat banyak orang

terimakasih dan tidak butuh viral !

Minggu, 31 Desember 2017

Tahun Baru : Satu Event Sejuta Alibi

Happy new year

Kemana acara tahun baru kemarin? 
pantai? gunung? ke mall? ke pusat kota menyaksikan kemeriahan kembang api? berkumpul dengan teman-teman  menyeduh kopi? bakaran ayam yg sudah tak banyak peminatnya lagi? mungkinkah hanya membusuk di dalam kamar yg di banggakan sebagai tempat paling nyaman di dunia ini?  atau justru sibuk dengan urusan kerja atau duniawi? 

Dari sekian banyak pilihan untuk menikmati malam pergantian tahun, pasti selalu ada orang yg sok bijak yg mengatakan bahwa perayaan tahun baru nggak ada faedahnya.
mari kita bedah alibi receh mereka yg sok suci itu hahaha

Siapa yg bilang demikian? remaja nakal yg masih sekolah?  atau pemuda yg belum menikah?
jika yg mengatakan adalah kategori orang seperti di atas, sudah sangat jelas bahwa pembelaanya adalah omong kosong samata, dia hanya sedang menutupi kesedihan yg ia derita, karena lagi-lagi menjadi pecundang dari tahun ke tahun dengan nasib yg sama!
karena sebagai seorang pemuda yg idealisme dan ego sedang tinggi-tingginya, merayakan pergantian tahun itu lumayan penting, dan sudut pandang yg demikian adalah yg paling bijaksana :)

Ingin ke pantai atau gunung namun budget minim, lalu nyinyir di medsos mengatakan bahwa merayakan tahun baru adalah kharam, budaya barat dll, namun waktu valentine dan kebetulan pas punya pacar+lagi ada duit lalu ngasih colat ke pacarnya hahaha.
DOUBLE STANDAR !!

Ingin keluar ke pusat kota bareng teman atau pacarnya nongkrong di coffeshop ata taman kota, namun tak mendapat ijin dari orang tua? lalu karena iri dengan mereka yg bisa menikmati euforia, ia lantas mengatakan bahwa tahun baru itu sangat dekat dengan zina! hahaha
hidup itu kompleks, permasalahanya bukan cuma tentang keribetan hidup satu orang, kalo semua mau di pukul rata, lantas mereka yg keluar tahun baru dengan keluarga kecilnya apakah mereka itu mendekati zina? 
padahal niatnya mulia, setelah sekian lama sibuk dan penat dengan urusan kerja, mereka ingin membangun equality time dengan orang-orang yg tersayang, namun dengan seenaknya para looser nge-judge bahwa ini itu, kalo gini gitu ! bangsat!
yg di ijinkan untuk berpendapat khalal dan kharamnya tahun baru ya orang yg punya background agama yg kuat, minimal tukang ngaji atau udah jadi santri, minimal sholatnya nggak pernah bolong lah, basic agama sesuai dengan apa yg sering ia katakan .
kalau yg berkata demikian adalah anak ingusan dan orang awam, dosa ini itu masih di jalankan namun mengomentari tahun baru adalah kemaksiatan,, tai kalian !

jangan dengar siapa yg berbicara, namun lihat apa yg ia kata kan !
quotes receh di atas sering jadi pembelaan orang yg bersikukuh dengan komentarnya.
tp apa kamu mau di ceramahi orang yg secara terang-terangan terlihat mata berlaku dosa maksiat di depan kamu? lalu saat ia sedang tak sanggup melakukanya ia mengomentari kamu seenaknya, padahal ia hanya pecundang yg ingin ada nasib yg sama atas kepayahanya, boom !

Oke lanjut...
ngapain ke pantai? macet juga ! planing mau liburan nantinya malah jadi tambah stres !
emang sih, saking banyaknya orang Indonesia yg kekurangan hiburan dan sangat candu terhadap liburan, dan pada waktu tahun baru tiba, pantai yg tadinya di mimpikan banyak orang untuk membuang lelah, sesampai sana justru yg di dapat adalah lautan manusia dengan kebisingan seperti tengah kota!

Gunung juga demikian,  setelah era sosial media tiba, gunung kini tlah berubah fungsi, menyepi bukan pilihan yg tepat, karna saat liburan tak jarang beberapa gunung populer di indonesia banjir pengunjung, kuota yg berlebihan menjadikanya tak lagi ramah dan sejuk seperti udaranya.


Nah jika yg berpendapat demikian tak berminat ke pantai dan gunung adalah orang yg berduit si sah-sah saja haha
males keluar karena macet, parno nanti malah jadi makin stres dll.
lalu golongan orang-orang ini lebih memilih untuk menunda liburanya, dan mengganti di hari yg lain, yg lebih senggang daripada tahun baru.
yg nggak boleh angkat bicara dalam hal ini adalah golongan si pemalas kerja, ia stres karena nganggur dan tidak sanggup untuk merayakan tahun baru, lalu ia nyinyirin kebahagiaan orang lain dengan jurus mengangkat isu efek buruk tahun baru haha

Point berikutnya
bakaran mantan, eh bakaran ayam maksudnya, seringkali jadi alternatif bagi mereka yg ingin merayakan tahun baru dirumah saja, alasan utama yg sering saya lihat adalah karena tak mendukungnya biaya untuk berpergian jauh haha
sebagai seorang yg sudah sangat matang dalam pengalaman ini alias bakaran, dulu saya sering mengalami kondisi yg sedemikian rupa, nggak ada duit, nggak ada pacar, pilihanya cuma ngumpulin orang yg bernasib sama, lalu membuat membuat party kecil-kecilan di halaman rumah salah seorang teman.
menyenangkan?
mari kita jabarkan....
lumayan sih daripada kesepian, paling tidak menjadi kesibukan daripada makan ati nggak bisa tidur karena iri dengan mereka yg bahagia berame rame di luar sana haha
berbagi api bersulang kopi menjadi ciri khas dalam acara low bidget ini, bercengkrama bercanda ngobrol dr hal2 penting sampai nggak paling penting adalah daya tariknya.
namun dalam beberapa tahun terakhir saya memutuskan untuk tidak melakukanya lagi, setelah era mileneal datang dengan membawa gadget sebagai perangkatnya, kehangatan dalam perbicangan seakan menghilang.
berkumpul tanpa makna, tangan dan mata masing-masing sibuk dengan layar kaca hapenya.
kajian apa yg di dapat dari kebersaaan semacam itu? substansinya apa? tujuan awal tlah menghilang.
tak ada lagi yg tersisa dan tak ada lagi yg berkesan.

ketika pilihan-pilihan tak ada lagi, magnet yg kuat untuk mengajak bergairah dalam euforia tahun baru, maka pilihan mu untuk membusuk di dalam kamar adalah hal tepat, dan di jamin setelah iklas tanpa melakukan apa-apa saat ribuan orang berbahagia di luar sana dan malam ituu pula tidurmu juga akan nyenyak.

saya sendiri malam  tahun baru justru kerja.
udah nggak pengen keluar waktu tahun baru? sebanarnya pengen sih, tp satu-satunya daya tarik untuk melakukanya justru bernasib sama.
ia seorang pejuang yang tengah bertarung melawan kerasnya hidup di kota orang.
andai saja ajakanku untuk keluar ia terima, pasti aku sudah bolos kerja dan lebih memilih bergandengan tangan denganya  sepanjang malam haha
nggak penting mau kemana, asal bersama orang yg kalian cinta semua terasa indah kan?
bahkan nonton orkes dangdut pun bakal saya lakukan jika ia yg meminta hahaha
lagi-lagi cinta menang atas logika.
udah ah malas jadi lembek gini pembahasanya haha

inti dari tulisan ini adalah mengajak semua orang untuk memposisikan kritik pada jalur yg semestinya, lihat posisi mu, menyiapkan alibi hebat dalam menangkal serangan balik, dan untuk lebih dewasa dalam menanggapi sesuatu fenomena.
jika memang kalah dalam beberapa hal pilihan yg terbaik adalah dengan diam.
satu-satunya level yg berada di atas bungkam adalah dengan menertawakan diri sendiri, memaki dan menertawakan betapa mengenaskanya hidup kita yg tak bisa seperti orang lain yg tengah berbahagia.
jika tlah sampai pada titik tersebut maka di jamin tak akan ada lagi kecemburuan sosial yg berlebihan, dan untuk sampai tingkat tersebut biasanya kamu tak lagi muda haha

udah ya, da da
















































Kamis, 07 Desember 2017

PRO DAN KONTRA ROKOK DI INDONESIA

Sebagai perokok aktif yg sudah lebih dari sepuluh tahun mengonsumsinya, saya telah banyak belajar tentang bahaya dan manfaatnya.
di lihat dari mudharatnya semua orang tentu juga sudah tau dan mengerti, tp jika di tilik dari faedahnya banyak sekali kalangan yg mengesampingkanya.

mari saksikan dan bacalah saya akan sok pintar dan membahas satu persatu.
di mulai dari bahaya nya.

Efek buruk dari rokok? konon tak terhitung jumlahnya, pokoknya yang jelek-jelek ada dalam kandungan rokok, mulai dari ultimatum dalam kemasanya yg semua orang pernah membacanya, sampai mitos-mitos negatif yg nggak ada hubunganya.
tp di luar efek kesehatan yg di gembar gemborkan oleh pemerintah tentang bahaya merokok, saya lebih tertarik untuk melihat dari sisi ekonominya terlebih dahulu.
efek dari menjadi perokok aktif adalah boros, pengeluaran yg membengkak dan sulit untuk menabung.
bayangkan saja pengeluaran perhari nyaris sama bahkan bisa jadi lebih besar dari konsumsi kita terhadap nasi yg di klaim sebagai makanan pokok orang indonesia.
kata kan untuk biaya rokok saat ini rata-rata /harinya seseorang bisa merogoh kocek Rp.20.0000, jika di kalikan /bulan = 30hari maka akan muncul hasil Rp.600.000 dan jika di hitung dalam setahun itu artinya di kalikan (12bulan) maka hasilnya menjadi Rp.7.200.000
lihatlah para perokok aktif, seharusnya kalian punya uang sekian pertahun jika tidak merokok, apabila anda sudah merokok selama 10 tahun maka anda tlah membakar uang sebesar 72juta rupiah, angka yang fantastis bukan. menyesal?
jangan pernah !!
mari kita balikan fakta di atas, melalui permainan kata yg sudah sangat sering saya gunakan untk mengelak dan membela diri hahaha.

lantas para perokok pasif atau non perokok memiliki uang sebanyak itu? jelas sekali tidak, saya tau kalian orang susah hahaha
jadi yang namanya bisa menabung atau tidak itu sama sekali tak ada hubunganya karena perokok atau bukan
bisa nabung itu terdiri dari tiga faktor, yaitu niat, besar penghasilan dan besar kebutuhan atau pengeluaran primer.
jangan langsung menilai harusnya gini harusnya gitu, dancok!

Dari sisi kesehatan semacam kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan serangan kenangan mantan, ternyata setelah saya baca dari beberapa sumber yg entah kredibel atau tidak, hasil dari efek buruk rokok terhadap kesehatan itu banyak sekali, bahkan menurut survey yg di lakukan oleh suatu lembaga kesehatan ternama di indonesia, kematian akibat efek buruk rokok itu merupakan angka tertinggi setelah kecelakaan lalu lintas.
dan dari artikel yg saya peroleh tersebut, maka tercipta sebuah opini bantahan dari saya untuk si lembaga survey tersebut : bukanya kematian udah takdir dan di gariskan ya?
iya sih semua ada sebab akibatnya, namun jika terus menerus memojokan perokok dengan mengecapnya sebagai si sumber semua penyakit rasanya tidak adil lah.
ada banyak jenis macam penyakit yg juga banyak bukan dari rokok, contohnya dari pengawet makanan yg semua orang mengonsumsinya, tp apakah isu tersebut di angkat sedemikan gencar seperti bahaya merokok? tidak !
sejak saya belum lahir bahaya rokok di doktrin kan kepada masyarakat indonesia, yang ini itu yang jangan gini gitu, tp faktanya tidak optimal juga kan, nyatanya masyarakat kita menempati rangking perokok aktif terbesar ketiga di dunia setelah cina dan india.
itu menunjukan bahwa masyarakat sudah sadar bahwa rokok itu nikmat hahahaha.

Bagi para haters rokok dimana pun kalian berada, tolong jangan terlalu benci terhadap rokok yg sesungguhnya sangat besar kontribusinya untuk perekonomian indonesia.
begini saya jelaskan, industri rokok itu  menyumbang  1,66%  total pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia, dan devisa negara melalui ekspor ke dunia yg nialainya pada 2015 mencapai US$ 700 juta dolar, amazing bukan?
Selain itu, Industri rokok juga menjadi sumber penghidupan bagi 6,1 juta orang yang berkerja di industri rokok secara langsung dan tidak langsung, itu belum termasuk petani tembakau dan cengkeh.
apa iya yg benci terhadap rokok akan tega jika orang sebanyak itu akan kehilangan mata pencahariaan karna kalian yg meliat dari satu sisi begitu sinis mendukung apabila rokok sebaiknya di larang di indonesia!!

Tidak hanya itu, penerimaan negara dari sektor bea cukai rokok  tahun 2013 tercatat Rp.103,53 triliun, begini analoginya tentang duit sebanyak itu, jika 103,53 triliun tersebut semuanya di belikan papeda, maka seluruh indonesia akan lengket !

"Di bilangin biar sehat kok nggak mau", begitu ucap salah seorang yg begitu benci terhadap perokok.
hey mas mbak yg kalem dan tidak merokok, kami para perokok aktif juga sadar akan efek buruknya, tapi kami juga sadar ada manfaat lain di dalamnya.
lagian ya, berhenti merokok tidak semudah seperti pengakuanmu atas mantan yg katanya sudah kamu lupakan, padahal belum.
nikotin itu candu, butuh waktu dan proses yg tidak sebentar untuk menghindar dan keluar darinya.
coba deh kamu ngerokok sampe kecanduan, lalu coba berhenti, apakah tetap akan kukuh dengan pendirianmu yg kolot itu?

"Asapnya itu lho sangat menggangu!!!!".
iya, kami minta maaf yg sebesar-besarnya jika masih suka merokok di fasilitas umum seperti kendaraan umum, atau ruangan umum tertutup.
tp sekarang juga sudah banyak kok toleransi dari para perokok ini, yg mengonsumsinnya begitu meperhatikan situasi dan lokasi dan kondisi,dan semoga kedepanya tidak pernah ada yg di rugikan dari kami.

Apabila setelah tulisan ini di buat tetap saja ada yg bersikukuh mengatakan bahwa rokok adalah negatif tanpa ada kebijakan untuk merubah pola pikirnya, coba orang-orang tersebut memprotes juga masyarakat kalangan menengah ke atas yg menggunakan mobil pribadi untuk tujuan jarak dekat dan hanya berisikan satu dua orang penumpang, padahal ada motor, padahal ada angkutan umum untuk meminimalisir kemacetan dan pencemaran udara.
bayangkan polusi dan pemanasan global yg mereka ciptakan? efek buruknya ? coba isu tersebut di angkat secara besar-besaran.
apa karena berbalut kemewahan lantas tidak terlihat efek buruknya? dancok !


udah gitu aja, emosi saya hahahaha


Rabu, 15 November 2017

Antara Aku Kamu dan Tuhan

Materi yg tidak mudah akan di bahas dalam Tulisan kali ini.
yg sudah pasti beberapa orang teman yg mengetahui masa laku ku, akan mengira bahwa aku lagi-lagi membahas tentang perjalanan asmara yg selalu berakhir tidak bahagia (belum saatnya).

Dalam topik kali ini, sebenarnya bukan kemauan pribadi yang membuat jari-jari angkat bicara, namun seorang sahabat sedang mengalami sebuah kondisi, dimana ia di hadapkan dengan suatu keadaan yg sering membuatnya bimbang, dilema, bahkan lebih dari itu semua.

Pernah menjalin asmara dengan yg beda agama?
Tak pernah ada kesempatan untuk memilih kita akan jatuh cinta kepada siapa, dimana dan kapan.
sebuah kisah cinta yg kompleks jika dua orang saling jatuh cinta namun beda tempat untuk berdoa atau menghadap kepada Tuhan nya.

Awalnya semua terasa indah, sama seperti jatuh cinta kepada sesama pemeluk agama, karna kasmaran memang selalu menyenangkan, agama tak bisa menutupi kebagaiaan itu dengan ayat-ayat suci nya.

Di tengah perjalanan ada toleransi yg lahir karna rasa sayang, kamu tersenyum melihat aku sholat, aku iya kan ijin mu tiap minggu untuk acara kebaktian.
aku jemput kamu di depan gereja, kita berjalan entah kemana, yg jelas dengan mu akan mengahdirkan kebahagiaan.
di tengah hari tatkala kita sedang tertawa karena hal tak penting, atau terkekeh karena guyonan ku yg garing , kamu menunjukan jam tangan, mengingatkan ku sudah waktunya untuk menghadap pada Tuhan.
ku elus pelan rambutnya, ku tatap mata nya yg sayu, lalu aku pergi untuk menjawab panggilan Tuhan ku.

iya, sejak hari itu aku mulai benar-benar nyaman dan jatuh cinta, ingin hubungan ini lebih dari sekedar pacaran, namun harus beranjak ke level keseriusan.
toleransi terus berjalan dengan segala pikiran yg berkecamuk dalam diam.
kebersaam semakin banyak terbentuk, kompromi selalu mudah untuk kita hadir kan, menemani mu makan sate babi saat aku sedang menjalankan ibadah bulan ramadhan, dan kadang minggu pagi mu di gereja hanya sebentar, karna ingin menemani ku jogging mengitari lapangan.

Namun aku tau, perasaanmu sama sepertiku, ada getaran ragu, kebimbangan yg sudah sejak awal bertamu.
aku tau kamu juga merasakan hal yg sama, hanya saja di antara kita tak ada yg punya nyali untuk angkat bicara.
Dua insan yg tengah saling jatuh cinta, tak siap membicarakan kenyataan, karna mereka khawatir perpisahan akan jadi jawaban dari apa yg selama ini mereka pikir kan.

bodoh amat dan persetan, jalani dulu saja, toh sampai jenjang itu waktunya masih lama.
masih banyak hal yg ingin ku kejar, masih banyak obsesi yg dia ingin wujud kan.
soal mimpi kita bersama itu urusan nanti, yg jelas kini ada aku untuk menyediakan bahu ku saat  dia bersedih, dan mempersiapkan hati dan kuping ku untuk mendengar keluh kesah mu, aku tak ingin semua itu hilang, aku masih ingin jika menangis ada tangan yg memeluk dengan cinta, dengan kasih sayang, bukan nasehat-nasehat klise dari beberapa orang yg mengatasnamakan teman.



Katedral dan Istiqlal walaupun berbeda tapi bisa saling harmonis berdampingan, kalo mereka bernyawa siapa yg bisa menyangka kalau mereka tidak saling jatuh cinta  ????!!!!


Waktu tak bisa di hentikan, ia tak memiliki jeda terus berjalan membisikan bahwa usia ku tak lagi remaja, yg pacaran hanya untuk senang-senang.
semua orang selalu punya mimpi, dalam menjalin hubungan asmara selalu berakhir dengan bahagia.
pacaran lalu membangun rumah tangga, dan tentu nya harus dengan orang yg di cinta.


Disini lah fase terberat  itu di mulai, bahkan sedikit berani menyalahkan perbedaan.
mau tak mau di antara kita harus ada yg berani angkat bicara, mau di bawa kemana hubungan kita? 
aku merasa tak pantas mengajakmu memeluk keyakinan ku, dan hal mustahil bagiku untuk menganut agama mu.
"Seandainya berhak untuk meminta, aku ingin sejenak bicara pada Tuhan sebelum di lahirkan ke dunia"

Dramatisasi kisah sinetron dan film drama kini jadi nyata, mengantarkan ku pada sebuah pilihan berat, melepaskan orang yg di cinta, atau mencintai pencipta yg di cinta (?).

Sebagai orang beragama, tentunya logika ku sanggup membaca, bahwa jika tetap bersama adalah sebuah kesalahan, tapi alam bawah sadar selalu memaksa ku tetap bersikukuh, bahwa kalo memang cinta walaupun bagaimana masalahnya akan ada solusi untuk tetap bersama.

Dalam beberapa pertemuan berikutnya kita lebih sering saling diam, menjalani hubungan yg memang tidak di anjurkan oleh suatu norma yg sudah ada sejak kita di lahirkan.
di gariskan menjadi orang timur memang sedikit kesulitan untuk menerobos suatu perarturan yg jika agama dan negara tidak berkata -ya-.


Hubungan beda keyakinan memang tak pernah menjanjikan kepastian.
berhasil atau tidak itu perkara seberapa kuat kita menahan.
toh mereka yg seiman juga merasakan hal yg sama.
bahwa setiap hubungan akan di hadapkan dengan dua kemungkinan, antara berhasil atau justru nihil.

Bukan semata-mata soal keyakinan kita yg beda, perkara cinta itu sendiri juga masih terlalu abstrak untuk diterima.
cinta menawarkan dua hal yg berlawanan secara bersamaan, memanjakan kita dengan harapan, tapi menyiksa dengan kecemasan.

iya, cinta itu brengsek, sayang !



........... dan setelah sekian tahun............


Semua kisah harus ada akhir, dan logika ku jadi pemenangnya, semua yg tlah ku lalui akhirnya  rasionalitas mampu menjawabnya.
proses dan perjalanan kehidupan mengajarkan ku, bahwa apa yg sudah di gariskan Tuhan itu adalah mutlak ,tak ada sutradara terbaik selain sang pencipta alam.

Air dan minyak tak bisa bersatu, namun bisa berjalan beriringan,  namun sayangnya peribahsa pemersatu tersebut tak bisa di gunakan dalam hal sakral bernama pernikahan!
yg mana kita adalah insan, bukan minyak atau air yg tak memiliki hati dan pikiran!

Dalam suatu hubungan perbedaan memang selalu ada, dan konon kata nya perbedaan-perbedaan tersebut di ciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain, ah TAI!
perbedaan di ijinkan tp dengan porsi ringan, jangan terlalu banyak atau berlebihan, karena kadar pemersatu sangat sulit untuk di temukan.

Tapi dari semua yg tlah di lalui, jangan pernah ada yg di sesali, sampai detik ini aku sering tersenyum sendiri, tak pernah menyangka bisa menjalani kisah yg sehebat itu, melalui masalah sebesar ego ku.

Awalnya begitu perih harus berpisah karna perbedaan, tak ada benci di dalamnya, namun ada amarah besar dalam proses terjadinya, aku muak dengan kenyataan, memaki takdir yg tak berpihak, mengumpat dan menyalahkan jalan hidup, yg karenanya bahagia ku terenggut!

Ternyata, semua itu cuma soal waktu,,,,
Ia adalah resep dari segala obat, karena ada andil Tuhan di dalamnya.
Tuhan mengirimkan banyak lagi kisah yg beragam, kejadian -kejadian yg mengejutkan, dan secara tidak langsung dari itu semua ada anugerah yg di sampaikan untuk membantu ku lupa pada peristiwa yg sempat menimbulkan lara dan kecewa.

Dan di bagian akhir harus ada iklas, sebagai closing yg sempurna.








Selasa, 31 Oktober 2017

kamuflase Matrealisme Menggunakan Cinta

Seberapa sering di kalah kan realita? di pecundangi kenyataan, di injak-injak kemudian di ludahi.
hal-hal yang demikian sedikit banyak saya pernah alami salah satunya.
di saat Tuhan menentukan bahwa garis kehidupan tak mudah seperti yg di impikan banyak orang, selalu ada pemandangan kemewahan yg selalu tersaji di depan mata, sesuatu yg tak di miliki, jauh dari apa yang di punya, bahkan sekedar bermimpi pun tak berani.
Bergelimang harta selalu jadi juara, di pilih disana sini memilih kesana kemari, memilih apa, memilih siapa, mau ini, enggan yg itu.
Berbeda dengan orang-orang di golongkan dalam kategorikan kaum marjinal.
pepatah kuno pernah bersuara "bagai pungguk yang merindukan bulan", bagi golongan menengah ke bawah seakan mustahil untuk meniru para orang yg punya segalanya, harta, kekuasaan, dan sesuatu yang sangat di agung kan manusia pada umum nya.
Kesenjangan sosial tercipta dari dua hal yang bertolak belakang tersebut, tentunya yg memiliki segalanya akan sangat di hormati, di perlakukan istimewa, dan sebaliknya si miskin akan di pandang sebelah mata dan di anak tiri kan.
Sulit rasanya sebagai golongan kecil harus membahas masalah ini, sangat rawan di kata kan iri, di pandang sebagai si lemah yg suka mengeluh, dan juga bisa di judge menjadi orang yg tak pandai bersukur.
Namun yg namanya keresahan atau unek-unek ada baiknya di keluarkan, dan lebih baiknya lagi dengan cara yg menarik dan elegan.
Lewat media tulisan ini adalah opsional terbaik yg saya pilih, untuk mentransformasikan apa yg selama ini (golongan kecil) rasakan.
Apa yg melatar belakangi tulisan ini di buat?

Jika ada pertanyaan seperti atas, akan ada sedikit beragam jawaban yg akan saya ulas.

Yg pertama tentang pengalaman pribadi, yang sangat sesuai dengan deskripsi blogg ini, yaitu pendapat atau opini yg subjective, maka dari itu siapa saja berhak menyalahkan atau tidak setuju.
Dengan memasang wajah tembok tebal saya terpaksa mengakui bahwa saya baru saja di pecundangi oleh seorang wanita, ia lebih memilih pria kaya tapi tua, di bandingkan saya atau pria lain yg usianya tak jauh dr dirinya.
beberapa waktu yg lalu saya sering sharing dengan beberapa orang teman, berbagi argumentasi dan menyimpulkan bahwa matrealisme dalam fakta yg akan saya kemukakan sangat ketara.
status sosial menjadi alasan utamanya, bergelimang harta menjadikan pria tua itu di pilih, dari beberapa sumber yg cukup valid, si pria adalah seorang bos besar, memiliki beberapa usaha yg sangat menjanjikan.
selain minus usia yg sangat berbeda jauh, ia juga seoang suami dr wanita yg tlah memiliki 3 anak dr pernikahan pertamanya tersebut.
"lalu beberapa opini muncul ke permukaan, kalau yg namanya cinta tak memandang status sosial, harta, ataupun usia, bisa jadi kan si wanita tersebut memang benar-benar menaruh hati, tak ada maksud dan tujuan lain dalam hubungan tersebut?"
Masih berlaku kah omong kosong bijak di atas? bukan kah lebih terdengar atau terlihat seperti pembelaan pribadi si wanita untuk menutupi ambisinya?
melihat fakta di lapangan, saya sangat berani menyimpulkan tak ada rasa cinta dari si wanita untuk pria tua tapi kaya tersebut haha
yg ada hanya perasaan kekaguman tentang kepemilikan materi dari si wanita kepada si pria yg jarang di miliki oleh beberapa orang, terutama di lingkunganya, semua itu menimbulkan sebuah nafsu dan ambisi ingin terlihat sebagai orang dengan status sosial yg mentereng, melalui harta benda yg ia dapatkan setelah berhasil menggndeng si pria tersebut.
Alasan terkuatnya adalah saya mengenal cukup baik dan dekat si wanita tersebut.
suatu malam ia pernah mengajak diskusi tentang pernikahan yg mengarah ke poligami, ia menyatakan setuju terhadap keputusan poligami seorang laki-laki, alasannya `;
untuk seorang pria adl lebih baik mempoligami seorang istri daripadi di talak atau menceraikanya.
kalau hukumnya memang lebih baik seperti itu it's oke, tp yg namanya hati nurani, terlebih seorang wanita apakah ia rela di madu? di dua kan dan setuju?
terkecuali kenapa ia setuju ? karna ia adalah pihak ketiga yg menjadi opsi kawin dua kali dari seorang lelaki tua yg kaya raya !!
Lanjut ke sebuah asumsi yg cenderung ngata -ngatain orang ini hahaha
``Ia (si wanita) adalah seorang pemeluk agama *** dan beberapa minggu setelah ia membela keputusan lelaki berpoligami tsb, lalu pindah menjadi agama *** . WTF !!!''

Dari dua cerita di atas saja skenarionya sangat mudah untuk di baca, kemana arah ia menjalani keputusan-keputusan yg sebetulnya sangat berat, namun bisa di lakukan begitu saja, tanpa waktu dan pertimbangan yg tidak bisa di katakan lama.
Sebagai penguat opini saya tambahkan beberapa fakta. di beberapa media sosial yg saya amati, sejak si wanita ini mengenal pria yg kaya raya tersebut gaya hidupnya cenderung berubah, yg tadinya biasa saja tiba-tiba berubah menjadi glamour.
beberapa fasilitas mewah ia dapat dan rasakan dengan mudah, lalu apa yg sedang ia lakukan ia tunjukan, apa yg sedang ia jalani bilamana berbau dengan kemewahan ia pamerkan!!
bagi saya yg mengenalnya belum dengan tabiat seperti itu, hal semacam ini sangat menjengkelkan!!!!
Ia terlamapu sering memakerkan ungkapan betapa ia sangat mencintai lelaki tsb, kalimat kalimat alay dan penuh omong kosong di kumandangkan, seolah-olah ingin menggambarkan betapa ia teramat mencintai pria yg berpoligami tersebut.
padahal jika cerdik dan tau dari awal bagaimana kronologis alur ceritanya, sangat mudah untuk di nilai bahwa ia menggunakan kata-kata cinta sebagai tameng atas matrealisme yg ia sembah!!!
spesifik tentang foto yg mereka berdua yg di unggah di media sosial, yg sampai sejauh ini dari puluhan foto belum pernah ada wajah laki-laki tersebut terpajang secara utuh?
ada apakah ini?
malu kah dengan suaminya yg tak lagi muda? (yang penting kaya)
atau malu kah ia jika sampai suaminya ketahuan mukanya dan publik akan mengenali, yg ternyata ia adalah seorang lelaki yg sudah berkeluarga, lalu si wanita akan di cap sebagai perusak bahtera rumah tangga sebuah keluarga dengan 3 orang putra?
___________________
Lihat bagaimana harta benda menguasai dunia, mengubah sifat, mempengaruhi seorang wanita yg tadinya memiliki idealisme tinggi kemudian di gadaikan begitu saja, lalu dengan sangat mudah menjual agama nya, menukar dengan sebuah status sosial bernama materi !!

Bagi wanita yg menyukai gaya hidup mewah akan sangat tidak setuju dengan tulisan saya, karna baginya materi adalah segalanya.
tak semua pria juga akan setuju dengan tulisan ini, yg memang tidak terhormat , terkhusus bagi pria yg punya banyak warisan dari orang tua yg menunjang kemapananya, dan merasa bisa memenuhi nafsu materi para wanita yg membabi buta.

Dengan nada angkuhnya para wanita akan berkata : beli beras (mobil) emang bisa pake cinta?
untuk hal-hal semcam itu kami para pria yg sedang berjuang juga tau dan sangat mengerti bahwa uang juga di perlukan, dan kami juga berkerja untuk mendapatkan itu, dan akan bertambah sangat menyenangkan bila dalam perjalananan menuju kesejahteraan tersebut ada wanita yg menemani dari titik terendah?
tapi sayang sekali di era yg serba cepat ini sepertinya kesejahteraan yg instan juga sangat di dambakan para wanita yg sudah bosan hidup susah, memiliki tampang sedikit menarik langsung menjadi pemilih, merasa pantas mendapatkan yg lebih.

Tapi bagi para orang-orang yg menyukai hidup sederhana, tentu cara pandangnya juga akan berbeda, saya yakin akan setuju dan berkata ya!
selain karna hanya itu yg mereka punya, perjuangan dan proses atas apa yg mereka impikan adalah sebuah jalur pilihan yg terhormat.
dedikasi waktu dan kerja keras terdapat dalam prosesnya, keringat dan tangisan memberi warna dalam perjalananya, lalu di tutup menggunakan hasil, yg selama ini tlah di perjuangkan sendiri.
memang tak selamanya proses setia terhadap hasil, namun setidaknya tak menghianati proses dan memilih jalur pintas, sebuah jalan yg sangat tidak layak, khususnya para pemuda karna hanya idealisme satu -satunya kemewahan yg ia miliki, karna harga diri itu di pertahankan, bukan di jual untuk mendapat status sosial !!!!!!

..........................................................
and the last
Banyak cewek menolak disebut matre dengan dalih bahwa tidak ada wanita yang mau diajak susah. Tetapi, matre dan realistis itu dua hal yang berbeda dan sesungguhnya bisa dengan sangat mudah dibedakan. 
Tentu sah-sah saja bila ada seorang cewek mengatakan bahwa ke-matreannya adalah sebuah tuntutan realitas, namun mereka juga harus tahu bahwa sesunguhnya tidak ada jenis realitas apapun yang mewajibkan seorang wanita untuk matre. 
Jangan asal percaya pada kata sok intelek yang berbunyi “realistis”.
Banyak yang menutupi kematreannya dengan kedok realistis.
Semoga saja dengan penalaran dan analogi sederhana diatas tadi kita semua jadi bisa membedakan keduanya.
Matre itu tentang pilihan, tapi menjadi realistis itu adalah sebuah keharusan




Kamis, 21 September 2017

Etika Bertamu dalam tanda kutip

Pengertian bertamu adalah berkunjung ketempat kediaman orang lain. 
Adapun maksud dari kunjungan itu biasanya karena adanya suatu keperluan. 
Bertamu dengan maksud yang baik termasuk kedalam kategori silaturahmi

Berbicara tentang etika bertamu, tentunya ada dua pihak di dalamnya, sang pemilik rumah dan pengunjung.
tuan rumah yang baik akan menyambut dengan hangat, dan tamu yang sopan akan berkunjung dengan santun.
kolerasi di antara keduanya sangat berpengaruh terhadap terciptanya suasana kondusif ketika keduanya duduk di depan satu meja.
obrolan akan mengalir bak dua sahabat yg tengah melepas rindu, atau kikuk seperti dua manusia yg baru saja di pertemukan tanpa chemhistry di dalamnya .

Tulisan yang akan saya muat bukan menyoal tentang etika bertamu secara  gamblang, secara spesifik tulisan ini akan menguraiakan tentang berkunjungnya hati seseorang kepada hati  lawan jenisnya`

sedikit bertele-tele dan njlimet memang, tinggal ngomong aja si a lagi suka sama si b, tp malah muter-muter (semoga muternya jelas) hehe

Tapi beginilah seninya dalam tulis menulis, ada tikungan, ada turun dan tanjakan, ada juga gelombang sebelum sampai pada pokok permasalahan.

Menyimpulkan dari pengalaman pribadi dan juga referensi yg bersumber dari cerita teman-teman yg pernah sharing, ternyata fenomena bertamu ke hati yg baru dan tidak sesuai ekspektasi sedang banyak di alami, atau memang sedang tren? hehe
paling tidak mungkin setiap orang pernah mengalami, kalah sebelum berperang, tumbang sebelum jadian hahaha

Analoginya begini, kita bertamu, pemilik rumah menyambut, mempesilahkan duduk, di buatin minum dan hal hal lain yg membuat kerasan, maksud dan harapan utamanya seperti itu.
tapi yg banyak terjadi justru sebaliknya, para kaum hawa ingin para pria masuk ke hatinya, tapi tidak mempersilahkan duduk, apalagi membuatkan minum, mereka ingin di selami, tapi tak ingin di miliki.

Efek dari itu semua banyak hati yg runtuh saat pulang dengan bekal kekalahan, sudah di beri celah harapan, begitu hendak masuk di himpit dengan pintu kenyataan. damn !!!
yah mungkin alasan selektif adalah pembelaan masuk akal dari para wanita, dalam memilih pasangan memang harus teliti, tapi yang niat dan datangnya baik-baik juga di sambut baikk baik pula, itu akan lebih fair, daripada sudah di persilahkan masuk tapi tak di suruh untuk duduk, mana mungkin bisa kerasan, karena merasa tak di hargai, lalu terpaksa pergi dengan kekecewaan.

Tidak kah sempat untuk sedikit berfikir, bahwa dari itu semua di belakang akan melahirkan luka, dan lebih mengerikanya lagi menciptakan dendam yg membara haha.

Lalu kalian para wanita di belakang menggunjingkan, membicarakan kekecewaan para lelaki dengan melabelinya "salah siapa keGRan", "aku nggak ngasih harapan cuma sekedar mau temenan aja, kamu sendiri yg terlalu berharap lebih", ah bullshit`
merasa paling benar dan seakan sebuah dosa besar jika merasa bersalah adalah satu paket  dalam diri kalian.

Kalau  hanya ingin berteman nggak perlu juga dengan respons dingin, ketika kami para lelaki ada maksud  lebih dalam prosesnya,itu menyakitkan.
Toh sejak awal juga kelihatan bahwa kedatangan kami bukan hanya sekedar ingin jadi teman biasa,
bisa lah menjaga sikap baik, ibarat menegaskan ke engganan dengan cara yg baik dan tidak menyakiti (banyak protes ya) haha

Usia yang bukan kategori remaja lagi membuat kami berfikir secara matang, bagi para wanita yg kami dekati di usia produktif ini seharusnya kalian merasa beruntung menjadi pelabuhan, yg niatnya akan kami jadikan yg terakhir sebagai teman kehidupan, hahaha

Tapi jika soal HAK di singgung dan di masukan dalam tuisan ini kami para lelaki jelas kalah telak, kewenangan berbuat sewenang-wenang adalah kebolehan mutlak, dan sebenarnya kami bisa saja di paksa untuk bungkam.
tapi yg namanya manusia yg berisikan hati, dimana keresahan lahir dari dalamnya, dan kami juga punya hak untuk menyuarakanya, dan dari itu semua lahir lah tulisan yg sungguh sangat subjective ini.
sedikit memalukan memang, tp apa salahnya mengeluarkan pendapat yg berbau pembelaan ini.
setidaknya di hari depan ini akan menjadi cerita yg akan di tertawakan, dalam keadaan yg lebih membahagiakan (amiin)

Lalu maksud dan tujuan dari tulisan ini apa? menunjukan bahwa ternyata banyak lelaki pemilih yang tidak laku? hahahaha
faktanya memang seperti itu, dunia ini terlalu banyak orang-orang belagu seperti kita yg tak memiliki cermin besar untuk intropeksi.
kadang ada wanita yg sudah membuka pintu, bahkan sebelum kita ada niatan untuk masuk dia mempersilahkan untuk singgah, lalu mempersilahkan duduk, melayani dengan sopan, namun si lelaki atau kita sendiri yg kurang santun, hingga membuat si wanita jengah, bahkan dengan lancangnya kita  pergi menghilang tanpa pamitan, meninggalkan goresan lara, karna kebimbangan.
keraguan dan belum siapnya mental untuk adaptasi dengan orang yg tidak sesuai dengan kategori (imajinasi) menjadi penyebab utamanya, lantas tidak kah kita juga timbal balik untuk berfikir sampai titik itu, jangan-jangan yg di rasakan para wanita juga demikian?

namun biarlah, ini semua adalah proses alam, seleksi yg nyata dalam menemukan yg benar-benar terbaik, untuk kita dan juga menurut Tuhan, hingga suatu saat nanti jodoh ditemukan, entah lewat proses yg kompleks, atau di temukan di sela-sela kesibukan yg sebenarnya sangat mudah untuk terjamah, lalu ia akan berkata : KENAPA BARU TEMUKAN AKU?








Jumat, 28 Juli 2017

#DearWonosobo


Surat untuk wonosobo
Ndeso, plosok,  dan tertinggal.
Begitulah mindset sebagian orang luar kota dalam menilai wonosobo.  Wonosobo adalah  daerah berkembang,  dengan letak  geografis  paling tengah di provinsi jawa tengah,  di apit dua gunung sindoro dan sumbing,  menjadikan "wong gunung"  adalah stempel umum.
Merujuk pada sudut pandang orang-orang dulu &  khususnya masyarakat perkotaan,  Julukan wong gunung memiliki makna bahwa penduduk wonosobo adalah manusia  kurang wawasan, dan serba tertinggal dalam  berbagai hal.
Begitulah kesimpulan saya menangkap berbagai opini  orang dari luar daerah. 
Meskipun demikian sebagai pribumi murni asli kelahiran kota dingin ini, saya amat bangga bisa bertumbuh kembang disini,  selain jauh dari hiruk pikuk sumpeknya perkotaan,  tumbuh besar sebagai orang ndeso dan gunung adalah suatu anugerah,  meski di pandang sebelah mata,  namun  semangat gotong royong masih begitu mendarah daging di dalam setiap individu penduduknya, kearifan lokal masih begitu kuat,  tak sekedar menjadi embel-embel semata,  dan mayoritas perilaku seperti di atas di anut sebagian besar masyarakatnya.
Seiring berjalanya waktu dan perkembangan zaman, wonosobo mulai bertransformasi, merubah diri.  Bersamaan dengan berkembangnya teknologi dan mudahnya informasi,  lewat media sosial  wonosobo menjadi kian mudah untuk dikenal .
Dengan dieng sebagai andalan,  serta perbukitan dan lembah-lembah yg cantik di sekitarnya,  membuat wonosobo sebagai tujuan pariwisata yg mempesona.
Belum lagi sindoro,  sumbing,  dan juga prau yg makin hari semakin di minati oleh kaum pendaki,  menjadikan kabupaten wonosobo sebagai daerah yang cukup menyedot perhatian para wisatawan lokal maupun luar kota untuk mendatangi kota dengan julukan asri ini. 
Kabupaten kecil yg dulu di pandang sebelah mata oleh  para penduduk non gunung, kini di sanjung, menjadi primadona, di kagumi objek pariwisatanya dengan potensi alam sebagai kebanggaanya. 
Dan akhirnya terbukti bahwasanya sesuatu yang Tuhan ciptakan selalu mendatangkan manfaat,  gunung yang dulu di asingkan, kini membawa keberkahan.
Jalan rejeki yang spesial diberikan Tuhan untuk wonosobo dari sektor pariwisata.
Dari fenomena  sosial media yang menyebarluaskan keindahan pariwisata wonosobo,  banyak lapisan masyarakat yg mendapat imbas positifnya.
salah satunya melalui kuliner, mie ongklok sebagai makanan  khas ikut terangkat namanya.  
carica yang menjadi ladang bisnis baru, buah langka yg menjadi ciri khas, untuk para pengunjung bawa pulang sebagai buah tangan.

Namun ada yang harus di stereotip dari kemajuan kota ini.
Yaitu soal sampah yg makin kesini semakin tidak terkontrol,  wisata alam seakan menjadi tempat sampah raksasa yang di lakukan oleh "banyak"  oknum yg tidak mengamalkan ilmu dari bangku pendidikan.
Pemandangan tidak sedap merusak citra pariwisata,  mengaburkan pemandangan indah yg seakan berkata bahwa tidak seharusnya untuk bangga.
Papan peringatan hanya menjadi pelengkap tanpa di indahkan,  di foto dan di unggah sebagai ajang eksistensi diri tanpa mau memahami subtansi.
Miris sekaligus risih,  melihat tingkah manusia di era modern yang mengagungkan kemajuan teknologi namun memperkosa alam sendiri, seakan alam bukan mahluk hidup yang dengan seenaknya bisa di  eksploitasi tanpa batas.
Bagaimana bila ia murka? Mau lari kemana?  Merengek memohon perlindungan pada Tuhan sebagai pencipta alam setelah miliknya di rusak di dzalimi?
Semoga kedepanya ada regulasi yg tegas dan optimal dalam melindungi alam,  bukan sekedar himbauan,  tidak hanya larangan,  namun peraturan yg menggunggah hati para pengunjung  untuk tidak apatis dan semena-mena dalam memperlakukan alam. 
Namun terkesan sok suci  bilamana hanya menyalahkan sampah ditempat pariwisata,  padahal di desa-desa dan berbagai penjuru plosok wonosobo hari ini sedang krisis kesadaran terhadap lingkungan,   sungai di lereng gunung yang dulu terkenal dengan kejernihan airnya kini bak jalur sampah yang  di aminkan secara berjamaah.
di penuhi sampah dan kotoran manusia,  mengganggu indra penglihatan dan pembau ketika melintasinya.
sungai dulu multifungsi, selain sebagai irigasi,  namun juga tempat untuk anak-anak bermain mandi di kali  menghabiskan masa kecilnya yang indah.
Sebuah kebahagiaan yg terpaksa di tiadakan oleh keadaan yg memang sangat tidak layak untuk kesehatan. 
Dalam hal ini nurani saya menyalahkan pemerintah,  kemajuan dalam infrakstuktur seperti  pelebaran jalan dan pembangunan di giatkan,  namun kebersihan lingkungan di anak tiri kan.
Masyarakat tidak kurang sosialisasi, sebenarnya mereka sadar adalah sebuah kesalahan ketika membuang sampah di jembatan, mereka terpaksa melakukanya karna tidak adanya fasilitas truk ataupun mobil sampah yg mengangkut dari wilayah mereka untuk di buang ke TPA.
Mau di bakar udara akan tercemar,  mau di timbun volume sampah yg di hasilkan tiap harinya begitu besar,  sehingga sangat tidak ramah terhadap lingkungan. 
Mau sampai kapan akan begini?
Menunggu sungai di wonosobo hitam pekat seperti di daerah kota industri?
Menunggu datangnya banjir dan diberi nama bencana?
Kepada para pejabat, kalian adalah wakil,  di titipkan suara rakyat untuk di wujudkan mimpi-mimpinya,  di sejahterakan kehidupanya,  tidak melulu di faktor ekonomi,  ada yg terlihat lebih sederhana namun sangat bermakna,  adalah terciptanya wonosobo yg kembali pantas untuk di sebut ASRI.
Dirgahayu wonosobo ku ke 192,  bawa pulang kembali mahkota adipura sebagaimana di masa lalu kita semua pernah bangga memilikinya.




Rabu, 03 Mei 2017

KEPO (Knowing Every Particular Object)




kita selalu saja ingin tau urusan orang lain, Itu sebabnya reality show merajalela di televisi, infotainment bisa ditonton puluhan kali dalam sehari. 
Bahkan, (mungkin) kita begitu suka membaca novel-novel atau film dan sinetron karena subconsciously, kita senang melihat dan mengikuti apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain (eventhough it’s fictional). Bawaannya puas aja gitu kalau bisa tau apa sedang dilakukan dan apa yang sedang menimpa seseorang. 
Lucunya,  kalau yang terjadi justru sebaliknya, disaat urusan kita dicampurin oleh orang lain atau ketika kita berhadapan dengan mahluk –mahluk yang kepo alias nosy, bikin  pengen nempelin stiker MYOB dijidat mereka.. Mind Your Own Business !!!!
Kalau ingin mengadakan semacam penelitian atau observasi kasus ‘nosy people’ ini, Indonesia merupakan tempat yang tepat. Karena nampaknya orang-orang kita memang hobi sekali mencampuri urusan orang lain. Mulai dari hal-hal yang simple semacam sapaan ‘mau kemana?’, atau ‘dari mana?’  sampai hal-hal pribadi yang sangat sensitif yg tidak selayaknya untuk di bicarakan`kenapa nggak bisa sekedar menyapa dengan ‘heloo, hari yang cerah ya?’ atau ‘hai semoga harimu menyenangkan’ or something like that, toh sama saja kalau memang tujuannya Cuma untuk beramah tamah). 
Sampai ke yang lebih ‘menjengkelkan’ lagi kaya ngurusin hal-hal yang sifatnya benar-benar personal, semacam; agama, moral, dan sejenisnya.Di Indonesia nggak aneh rasanya kalau dalam pembicaraan basa-basi somehow keluar pertanyaan ‘agamamu apa?  padahal religion is of course one of the most personal things in life, di negara ini kayaknya hal-hal itu jadi lumrah aja diletakkan diruang publik.
Sampai-sampai, ada golongan tertentu yang merasa bisa bawa-bawa nama agama untuk menjadi watchdog, mengecek apakah seluruh anggota masyarakat tanpa terkecuali benar-benar bertindak dan berlaku sesuai dengan ‘agama’ itu dalam kehidupan sehari-hari.
Lucunya, pemerintah kita juga kayaknya kok setuju-setuju aja dengan semangat kepo dengan sempat bikin RUU yang mengatur urusan paling personal, bahkan kalau nggak salah waktu itu sempat ingin bikin RUU yang mengatur tentang kumpul kebo segala. 
Gimana bisa bilang MYOB kalau wilayah personal dan wilayah publik aja ‘abu-abu’ nggak jelas.Bisa-bisa jawabannya, ‘hey, your business is my business too! So, suck it up!’.

DATANG PAS BUTUHNYA DOANG

Sedikit meluapkan tentang apa yg sudah lama saya resahkan. Menyoal relasi antara manusia dengan manusia Tentang realitas yang banyak terj...