Masih terlalu pagi bagi lelapku untuk diinterupsi oleh sebuah keributan.
Terlalu pagi bahkan ketika embun belum menyelesaikan tugasnya.
"Tidak akan masuk surga, orang yang mengganggu ketentraman
tetangganya!"
Kutuk batinku setelah mendengar suara makian dari luar rumah.
Prrraaaangg! Suara botol pecah terdengar nyaring diiringi jeritan seorang
wanita.
Aku bergegas keluar rumah untuk melunasi rasa penasaranku.
Di luar, aku melihat pemandangan yang tak sepantasnya terjadi. Seorang teman
sekaligus tetangga sebelah rumahku tengah mencengkeram baju seorang wanita,
sedang tangannya yang lain menggenggam pecahan botol yang mungkin baru saja ia
benturkan ke tembok, tempat dimana wanita tersebut terpojok.
Di posisikan sebagai saksi mata, kurang layak rasanya jika tak kulerai
perbuatan semena-mena temanku yang bernama Arif ini.
Apalagi pagi itu, di beberapa titik hanya ada ibu-ibu yang masih betah saja
berperan sebagai penonton.
Dengan sok pahlawan aku merasa berkewajiban untuk maju, setidaknya untuk
menjadi pembeda antara aku dengan ibu-ibu itu.
Ku tarik tubuh besar Arif dan memposisikan diri di antara dia dan korbannya.
"Apa masalahmu Rif?" Tanyaku menyelidik.
Ia tak bergeming, matanya masih lurus menatap tajam wanita yang merasa terancam
dan ketakutan di belakangku.
Aku percaya ada keraguan dalam dirinya untuk berbuat lebih jauh terhadap korban
di belakangku, terbukti ia menurut saja ketika aku menyeret dan mendudukannya
di sebuah kursi di depan rumahnya.
"Kenapa?" Tanyaku memaksa.
"Jangan main tangan sama cewelah!” Sambungku ikut duduk di sampingnya.
Bau alkohol cukup jelas tercium oleh hidungku.
"Bukan apa-apa." Jawabnya dingin sembari beranjak masuk ke dalam
rumah.
"Aneh." Gerutuku pada punggungnya yang mencampakanku.
Beberapa ibu kulihat mendekat berbicara entah apa dengan si wanita yang
sekarang sedang memakai helm di samping sebuah motor matic merk terbaru.
Aku yang sedikit enggan berurusan dengan orang yang tak ku kenal berniat
kembali ke rumah.
Beberapa langkah sebelum tangan ku menyentuh gagang pintu, ku lihat sepeda
motor wanita malang tadi berlalu di depanku, saat ku lirik ia balas menatapku
diiringi senyum simpul
yang kumaknai sebagai rasa terimakasih sudah melerai perkelahiannya dengan
Arif.
Tatapannya lesu, sepasang softlens biru muda terlihat kurang cocok menempel di
kelopak matanya yang sayu, mengibakan batinku.
Aku terbangun ketika matahari sejajar dengan kepala, lalu memutuskan mandi,
menjadi kegiatan yg tak tertulis dalam agenda.
Seusai mandi kucari kopi sachet di rak dapur dan berniat menikmatinya seorang
diri.
“Bangun siang, mandi, lalu ngopi, nikmat mana lagi yg harus ku arungi?”
Celetukku melawak seorang diri.
Namaku Ronal, menyandang status sebagai pengangguran baru, seorang yang baru
saja mengkhianati julukan mahasiswa abadi.
Kurang dari sebulan yang lalu, aku merampungkan pendidikan akuntansi di sebuah
universitas di Yogyakarta.
Masuk susah, lulus lebih susah, ditambah kelar wisuda tak langsung dapat kerja.
Maka beginilah sekarang hari-hariku.
Pada sesi adukan kopi sebuah suara mengagetkanku dari belakang.
"Dua sekalian Ron."
Ku toleh ke belakang, ternyata itu Arif, seseorang yang pagi tadi menyuguhkan
adegan tidak terpuji. Kupikir jika tadi adalah adegan sinetron, pasti sudah di
tegur oleh KPI!
Arif sudah biasa masuk keluar rumahku tanpa permisi, karna kami memang
bertetangga persis sejak kecil, meskipun sejatinya kami tak begitu akrab.
"Nggak kerja Rif?" Pertanyaan retoris ku lemparkan sembari
menyuguhkan kopi kepadanya yang sedang merokok di kamarku.
"Pengusaha mah bebas hahaha" jawabnya asal.
Aku hanya nyengir mendengar jawaban ngawurnya. Faktanya, dia adalah
pengangguran juga sepertiku, bedanya dia anak orang cukup berada yang tanpa
kerja masih bisa hidup mewah karena difasilitasi oleh orang tuanya.
"Udah mulai daftar kerja dimana?” Tanya arif datar.
"Belum, niatnya sih di kota sendiri kalau ada lowongan yg cocok"
ujarku menimpali.
"Mumpung kamu belum kerja malam minggu ikut keluar ayo? Kita karaoke,
hepi-hepi!!" Serunya penuh gairah.
"Wuah aku nggak bisa nyanyi Rif, tau sendiri kan suaraku, nafas aja false,
haha." Aku menolak dengan lawakan sebisanya. Padahal sebenarnya, aku
enggan karna sering mendengar kabar miring tentang dunia karaoke di jaman
sekarang yang sudah di masuki hiburan prostitusi.
"Halah nggak papa, ikut aja di sana nggak harus nyanyi, yang penting
bareng temen-temen." Tanggapanya sedikit mendesak.
"Lihat coba ya nanti, kalau nggak ada acara aku usahain ikut gabung.”
Jawabku pasrah.
"Ngomong-ngomong Rif, tadi pagi itu siapa yg ribut sama kamu?" Aku
mencoba untuk mengganti topik pembicaraan.
"PL bro (pemandu lagu), semalam kita minum bareng terus aku ketiduran
ditempatnya. Nah tadi pagi saat nganterin aku pulang, aku ngasih saran ke dia
kalau lagi sama pelanggan selain aku nggak perlu mesra-mesraan. Tapi dia
membela diri, menjelaskan bahwa apa yg dilakukannya adalah bagian dari profesi,
aku yang masih dalam pengaruh alcohol nggak terima dan naik pitamlah dia
ngelawan begitu hahaha." Tawa menutup penjelasannya yang menegaskan tak
ada rasa bersalah.
"Gimana cantik nggak si Vira?" Cewe tadi pagi itu namanya vira kata
Arif.
"Lumayan." jawabku datar.
"Malam Minggu kalo kamu ikut, kita ketemu dia lagi, besok kalo dia udah
aku udah transfer duit pasti kita baikan kok hahaha." Paparnya nampak
bahagia.
Aku cuek dan mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya.
"Kamu baper sama orang yg pekerjaannya..." Aku ragu untuk melanjutkan
pertanyaanku.
Arif nampak paham dengan ekspresi wajahku. "Iyalah, aku pelanggan tetap yg
paling royal, setidaknya aku punya hak lebih atas dirinya.
Semua yang ia katakan membuatku terkekeh tanpa suara, ia menganologikan wanita
yang ia hadapi sebagai boneka yang telah ia beli dan dapat di perbudak
semena-mena.
Hanya sebentar Arif dirumahku, ia pergi begitu saja tanpa ucapan terima kasih
atas kopi buatanku. Setelah kepergianya, tiduran dan streaming film adalah
jalan hidup!
Hari-hari berikutnya masih ku lalui dengan rutinitas yang nyaris tak ada
bedanya, bangun siang, maraton film apa saja, dan ronda di berbagai sosial
media hingga selarut-larutnya.
Orang tuaku sendiri tak pernah protes dengan kehampaan hidupku, diamnya mereka
ku anggap sebagai restu untuk tidak buru-buru langsung terjun ke dalam
kehidupan baru.
Sabtu sore enam hari sejak kejadian Arif dan Vira pagi itu, aku tengah duduk di
depan layar laptop yg menampilkan kredit title akhir sebuah film. Sempat
terpikir ajakan Arif, sepertinya tak ada salahnya mengiyakan ajakan itu nanti
malam.
Lagian belum ada kerjaan juga, sudah besar pula, entah kejadian baik atau buruk
nanti akan ku hadapi sendiri, hiburku memberi kepercayaan pada diri sendiri.
Sekitar pukul sembilan, bunyi klakson mobil arif mendobrak gendang telingaku.
"Ayo Ron!" Teriaknya terdengar gugup.
Setelah mengenakan jaket denim dan parfum ala kadarnya aku keluar.
"Sama siapa aja kita?" Tanyaku padanya begitu bokongku duduk di kursi
penumpang.
"Ricky dan Herman udah di depan, ayo meluncur!" Ujarnya bersemangat
bersamaan dengan pedal gas yang ia injak.
"Loh mereka kan sudah beristri?" Tanyaku kaget.
"Biarin dong, yang namanya refreshing mah nggak kenal usia Ron haha."
Jawabanya seakan mengamini kelakuan dua orang teman yang sudah berangkat lebih
dulu itu.
Enam puluh menit kemudian mobil sejuta umat milik Arif sudah berada di
pelataran parkir sempit tempat karaoke. Ricky dan Herman tampak tengah
berbincang di depan pintu dengan tiga wanita ketika kami turun dari mobil.
Ketiga wanita tersebut berdandan berlebihan, menggunakan sepatu hak tinggi, dan
rok di atas lutut, sebuah pemandangan yang jarang aku lihat.
"Hey mas." Ujar salah satu di antara tiga wanita tersebut saat aku
mendekat, yang langsung aku kenali adalah lawan main Arif di sebuah adegan
sinetron basi seminggu yang lalu.
Vira ini yang pertama menyalamiku, di hiasi senyum simpulnya, matanya telah
berubah jadi hijau, harga softlens sekarang murah, pikirku ketika mata kami
bertemu.
"Ronal." Ku ucapkan perkenalan tanpa disuruh. “Vira.” Balas ia
singkat.
"Novi." Sosok dengan rambut dicat merah menyala dari samping Vira
bergerak maju, lalu kusambut dengan gaya perkenalan yang masih sama.
Perempuan terakhir dengan gincunya yg merah menyala, paling berwajah dewasa di
antara mereka bertiga memperkenalkan diri dengan nama Chika.
Dari pengakuan tentang nama yang mereka beri, aku ragu untuk percaya akan
keoriginalitasnya.
Setelah sesi perkenalan mereka tampak saling senyum, entah apa artinya.
"Ayo masuk." Seru Arif mengajak kami.
Kami menunggu Chika untuk registrasi dengan duduk di ruang tunggu.
Sebuah bangunan yang sebenarnya ruko, cukup besar, memiliki tiga lantai,
bercahaya lampu-lampu temaram namun tetap terang, karna ada lebih dari sepuluh
bohlam dalam satu ruangan.
Nampak bapak-bapak yang kutaksir sudah memiliki anak usia SD keluar ruangan
untuk membeli minuman di mini bar yg terdapat di samping tempat kami duduk,
lalu kembali ke ruangan dengan dua botol minuman beralkohol dalam genggaman.
Di sini aku sudah mulai salah langkah dengan mengiyakan ajakan Arif. Sebuah
gaya hidup yang selama ini aku tentang, namun malam ini aku disini bertindak
sebagai tamu yang secara langsung ikut melanggengkan bisnis yg di katakan semi
kharam.
Ketika tengah asik melamun, lenganku ditinju oleh Ricky dan Herman diikuti
tawa mereka berdua.
"Pakai pelet apa ron?" Ledek Herman.
"Bagi-bagi dong," imbuh Ricky sambil merangkulku.
"Aku masih santri seperti yang dulu haha." Balasku menanggapi guyonan
mereka yang kurang lucu.
"Sepertinya mereka menyukaimu, pilih salah satu lalu ajak tidur."
Seloroh Herman membuatku terkejut.
Sebelum aku jawab dan bertanya kejelasan tentang pernyataanya, aku sudah di
buat terheran-heran oleh Vira dan Novi, tanpa canggung keduanya sedang berada
dalam rangkulan Arif, sebuah pemandangan yang asing buatku.
Seperti tidak diperbolehkan terheran-heran cukup lama, Chika memberi isyarat
mengajak kami semua membuntutinya.
Kami melewati sebuah lorong minim penerangan, bilik-bilik bersekat, hanya lampu
kerlip-kerlip sebagai sumber cahaya, anak tangga membawa kami menuju lantai
dua. Bilik di sini lebih banyak dari pada di lantai dasar, dan sepertinya
lantai paling atas juga sama.
Di lantai dua Chika membawa kami berjalan hingga ujung, lalu masuk ke sebuah
ruangan 6x5.
Sofa model setengah lingkaran menyambut kami untuk duduk.
Chika menghidupkan Layar dan setting ini itu, setelah di rasa siap Ricky
mengambil mikrofon dari tempatnya dan memilih lagu.
"Are you ready?" Teriak Ricky begitu norak menirukan gaya rock star,
ia menggandeng Chika jadi penyanyi pembuka.
Malang sekali istri anaknya di rumah, batinku melihat Ricky berjoget merangkul
pundak Chika.
Bagiku semuanya berjalan begitu lama, microfon berkeliling kepada siapa saja
yang akan menggilirnya.
Mabuk-mabukan, dan beberapa obat terlarang di minum para pemandu yang kudengar
sebagai doping mereka agar tetap kuat bertahan selama berjam-jam.
Tak terasa tiga jam aku berada di tengah pertunjukan omong kosong ini.
Hisapan rokok telah terasa hambar aku keluarkan dari mulutku.
Tak sekalipun aku berminat untuk ikut bernyanyi, alasan mencoba membaur dan
berkumpul dengan semua teman dari berbagai golongan menjadi alasanku tetap
bertahan.
Disaat suasana hatiku tengah dilanda dilema, ku lirik Vira yang tengah
istirahat, beberapa saat kemudian ia tertangkap basah sedang memperhatikanku.
Dia tersipu malu ketika mata kami bertemu. Aku tetap cuek memainkan ponsel
keluar masuk menu.
Namun tiba-tiba Vira berpindah merapat di sebelahku, lalu bertanya. "Nggak
suka karaoke ya?"
“Iya, nggak suka dan nggak ada minat belajar untuk suka." Bisikku tegas
kepadanya.
"Ngerokok di luar yuk!" Ajaknya menarik tanganku.
Sesampainya di luar ia langsung membuka obrolan, "Aku juga nggak suka,
bisa karna terbiasa, dan biasa padahal ya terpaksa."
Aku diam tak tau arah pembicaraannya.
“Kamu menikmati pekerjaan ini?” Tanyaku.
"Enggak, kamu orang baik ngapain kesini?" Jidatnya nampak mengkerut.
"Jadi yang kesini nggak ada yang baik? Termasuk yang kerja disini?"
Ku balik pertanyaannya.
"Semua juga sudah tau, bukan rahasia lagi bahwa pekerjaan kami di pandang
tidak terpuji.” Ia tutup jawaban dengan injakan pada putung rokok mild yang
baru habis dihisapnya.
"Aku selalu heran sekaligus tertarik sama orang sepertimu Ron, aku yakin
pasti kamu tak tulus hati datang ke sini.” Ucapnya datar dengan tatapan kosong
tanpa titik fokus.
“Aku yakin kamu orang baik saat pertama melihatmu melerai pertengkaranku dengan
Arif seminggu yang lalu.”
“Aku juga pingin hidup di jalan lurus seperti kamu dan orang normal lainya.”
Lanjutnya.
“Lalu kenapa kamu ada disini? Gimana ceritanya? Jujur aku adalah orang yang tak
pernah bersinggungan dengan dunia malam, kenakalan ku sebatas mengonsumsi rokok
dan pacaran.” Aku bicara begitu antusias ingin tahu terhadap jalan hidupnya.
“Tak banyak orang yang peduli bagaimana kisah kami.” Ia tersenyum kecut seakan
ada beban hidup dan masa lalu yang gelap di balik sorot matanya.
Lalu ia mulai berkisah, sebuah kota perbatasan Jateng dan Jabar dari sanalah
dirinya berasal.
Terlahir dari keluarga kurang berada, terpaksa membatasinya hanya menjadi
lulusan SMP.
Usia muda dan minim pengalaman, membuatnya susah mendapat kerja.
Semenjak lulus sekolah ia sering berkumpul dengan anak-anak yang kurang
perhatian dari orang tua di lingkungannya.
Di mulai dari pacaran yang tadinya sekedar bunga asmara bagi remaja
seumurannya, ternyata adalah pintu gerbang untuk ia bersinggungan dengan
pergaulan bebas, termasuk alkohol merk lokal dan obat-obatan medis murah yg
disalahgunakan.
Dari lingkungan itu pula jika malam minggu tiba ada beberapa pria yang
mengajaknya karaoke bersama di kotanya.
Karaoke, makan di luar, dan sedikit jalan-jalan berkeliling kota dirasa sangat
menyenangkan bagi remaja seumuranya yang haus akan sesuatu yang baru, itu semua
dianggap sebagai keberuntungan juga kesempatan.
Saking seringnya berkunjung, ia ditawari oleh seorang penjaga keamanan yang
merangkap menjadi agen di tempat karaoke tersebut, untuk bekerja menjadi
pemandu lagu, tentu saja dengan iming-iming upah besar.
Awalnya ia menolak keberatan, takut ketahuan orang tua menjadi alasan utama.
Namun seperti tanpa jalan buntu beberapa hari kemudian penawaran hadir kembali
dengan sebuah alternatif, ia di tawari luar kota sebagai domisili ganda,
tinggal juga kerja.
Setelah melewati proses pertimbangan dan dirasa menguntungkan, maka diiyakannya
tawaran tersebut.
Kerja dan tinggal jauh dari orang tuanya, berpamitan dusta kerja sebagai PRT di
ibu kota.
Malam itu aku pulang tanpa pamit kepada yang lainnya, tak ada yang berkesan
kecuali kisah-kisah Vira dan teman-temanya yang ia bagikan.
Ia sempat meminta nomorku, ia berujar kapan-kapan ingin membagikan apa yang
sebenarnya ia rasakan, dan aku dipilih karna dinilai sebagai orang yang tidak
menghakiminya secara sepihak.
Dua bulan sejak kejadian itu kini aku telah bekerja di sebuah perusahaan
provider ternama di kota ku. Suatu hari saat jam makan siang sebuah nomor tak
dikenal muncul di layar hapeku, sedikit terkejut karna dia mengaku Vira sang
pemandu lagu.
Setelah berbasa-basi tanya kabar ia bercerita bahwa bulan depan ia akan
dipindahkan ke kota lain di ujung utara pulau jawa.
Ia menjelaskan di tempatnya kerja ia sudah tak begitu laku, para pengunjung
lebih banyak memilih para penyanyi pendatang baru, dalam sistem dunia kerjanya
pindah tempat adalah sebuah terobosan, status pemain lama di tempat yang baru
menjadikannya sebagai barang baru yang masih laku.
Kapasitas yang aku miliki membuatku tak bisa berbuat banyak tentang
keputusannya.
Aku hanya termenung dan berandai, jika saja aku adalah pembuat kebijakan, akan
kubuat suatu undang-undang yang mengatur tentang tempat hiburan malam, begitu
khayalku saat itu.
Aku sadar efek buruk dari hiburan ini tidak hanya berdampak pada
individu-individu seorang, namun menyangkut banyak hal, khususnya sindikat
penjual pekerja dibawah umur yang jelas illegal, sex bebas, tempat bertumbuhnya
alkohol dan narkotika.
Dari kisah Vira awalnya aku menilai terseretnya dia ke dunia hiburan ini karna
permasalahan ekonomi.
Namun setelah kupikir berulang kali, ternyata bukan itu penyebabnya.
Vira memang terlahir dari keluarga miskin yg terjebak ke dalam pusaran dunia
gelap yang menawarkan kemewahan, namun itu tak bisa di jadikan suatu
pembenaran.
Banyak orang-orang dari keluarga ekonomi menengah kebawah, hidup susah dan
sengsara, namun mereka tetap memperjuangkan hidupnya di jalur yang terhormat
walaupun harus bersusah payah dan berdarah-darah.
Yang dilakukan Vira dan teman-temannya disebabkan karena kurangnya pehamaman
terhadap pendidikan moral agama, akhirnya tercipta mental lemah yang selalu
menginginkan sesuatu dengan cara instan.
Peran perhatian orang tua juga sangat diperlukan, pergaulan yang cenderung
diberi kebebasan secara berlebihan akan berakibat fatal.
Biarkan seorang anak berjalan sesuai keinginanya, namun tetap ada batas
pengawasan, beri ia ruang namun juga tetap ajarkan mereka arti sebuah keluarga
dan kepedulian, jika sesuatu yang buruk dan berat terjadi maka rumah dan orang
tua adalah sebenar-benarnya tempat untuk berpulang, bukan pergi dan tersesat ke
dalam perilaku yang tidak sepatutnya dilakukan.
Tak lama setelah obrolanku di telpon dengan Vira, aku melihat sebuah berita
di sosial media tentang demonstrasi besar-besaran yang terjadi di kotaku yang
di lakukan oleh sebuah ormas keagamaan. Mereka menuntut untuk menutup tempat
hiburan karaoke, selain banyak yang tidak memiliki izin resmi karaoke juga
dianggap sebagai penyakit moral yang berbahaya.
“Apa Vira sudah menyiapakan kepindahanya jauh hari sebelumnya dan bersandiwara
tentang apa yang ia ceritakan kepada ku waktu itu?” Pikirku setelah melihat
berita yang cukup heboh tersebut.
Entahlah, semoga saja aksi demo yang telah diamini oleh bapak bupati dengan
ditutupnya tempat-tempat hiburan yang membawa berkah kepada semua lapisan
masyarakat tersebut.
Untuk Vira dan semua orang yang bernasib sama dengannya, semoga Allah memberi
rejeki yang berkah kepada mereka, tidak seperti yang saat ini mereka lakukan.
Aku yakin dalam lubuk hati kalian pasti ada keinginan untuk kembali ke jalan
yang benar. Doaku menyertai kalian.